Selasa, 05 Oktober 2010

Wanita solehah

Kalau kita searching or browsing di internet, banyak banget artikel tentang wanita solehah. Begitu baca, aku langsung tertegun... Ternyata aku masih jauh banget dari kategori muslimah yang solehah itu... hahaha...

Emang nggak pantes untuk diketawain sih, tapi aku ketawa karena merasa miris aja, kenapa aku belum bisa menjadi wanita yang solehah.

Wanita adalah perhiasan dunia, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang solehah.

Rasulullah SAW bersabda, "Dunia ini penuh dengan perhiasan, dan perhiasan paling indah ialah wanita solehah" (HR Muslim)


Siapa sih wanita solehah itu?


Wanita solehah adalah calon bidadari surga. Dia cantik karena akhlaknya. Dialembut karena kesopanannya. Tegar karena kesabarannya. Bersinar wajahnya karena air wudhunya. Mempesona karena cintanya pada Allah SWT. Bahkan bidadari di surga pun iri terhadapnya, karena wanita solehah jauh lebih baik daripada bidadari surga.

Wanita solehah adalah wanita yang hebat. Ia tangguh dan pemberani. Berani membela agamanya, berani menjaga kehormatan dan harga dirinya. Selalu menutup auratnya. Wanita solehah itu pantang menyerah. Selalu tabah dan tawakal dalam menempuh ujian dari Tuhannya. Tak pernah rapuh, dan selalu ikhlas dalam hatinya.

Seorang wanita yang solehah mampu menjadi teladan bagi generasi di bawahnya. Ia penuh dengan cinta kasih, serta memiliki akhlak yang mulia. Selalu menjaga diri dalam pergaulannya. Menjauhkan diri dari bermaksiat dan selalu taat pada perintah Allah Ta'ala.

Wanita yang solehah bersifat qana'ah (selalu merasa cukup). Tak banyak tuntutan dan dapat menjadi istri yang baik, serta ibu yang penyayang.

Rasulullah bersabda, "Ada empat wanita mulia yang juga penghulu segala wanita di dunia. Mereka adalah Asiah binti Muzahim, istri Fir'aun; Maryam binti Imran, ibunda Isa; Khadijah binti Khuwalid, istri Rasulullah SAW; dan Fatimah binti Muhammad" (HR Bukhari)

Asiah adalah simbol teladan bagi wanita beriman yang tetap mempertahankan keimanannya kepada Allah, meskipun hidup bersama suaminya, Firaun yang tidak beriman kepada Allah.

Maryam ialah simbol wanita yang dalam ibadahnya dan tinggi derajat ketakwaannya kepada Allah serta mampu memelihara kesucian diri dan kehormatannya ketika mengabdikan dirinya kepada Allah.

Khadijah ialah simbol istri setia tanpa mengenal lelah mendampingi suaminya menegakkan panji-panji kebenaran Islam, berkorban jiwa dan harta bendanya serta rela menanggung berbagai risiko dan cobaan dalam menyebarkan risalah Islam yang diamanahkan pada Rasulullah.

Fatimah adalah simbol berbagai dimensi wanita yang solehah; anak yang soleh dan taat kepada ayahnya; istri yang setia kepada suaminya serta ibu yang bijaksana membesarkan putera puterinya. Dia adalah teladan bagi seluruh muslimah di dunia.



Hadis dan ayat Al Qur'an tentang wanita solehah

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, …” (Q.S. An-Nuur: 31).

Sabda Rasulullah yang isinya: “Sebaik-baik wanita itu ialah wanita yang melahirkan anak, yang penyayang; yang memelihara kehormatannya; yang mulia di mata keluarganya; yang menghormati suaminya; menghias dirinya hanya untuk suaminya tercinta; memelihara diri dari pandangan orang lain; yang mendengar kata-kata suaminya dan mentaati segala perintahnya."

“Apabila bersama suaminya, dia memberikan apa saja yang diperlukan suaminya dan dia tidak pula menolak ajakannya; serta tidak merendah-rendahkan atau menghina kedudukan suaminya di hadapan orang lain.” (Riwayat Al Tausi).

Dari Anas, Rasulullah SAW berssabda, "Apabila seorang perempuan mendirikan sembahyang lima waktu, berpuasa sebulan (Ramadhan), menjaga kehormatan dan taat kepada suami, dia akan disuruh memasuki syurga melalui mana-mana pintu yang dia sukai." (Hadis Riwayat Ahmad)

"Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara farji (kemaluan) - nya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara farji- nya dan janganlah mereka menampakkan perhiasan kecuali yang biasa nampak dari padanya." (QS. An Nuur ayat 30-31)


Subhanallah... kapan yah, aku bisa jadi wanita yang solehah. Ya Allah, berikan hidayahMu padaku. Aku juga pengen masuk surga. Amiiiiin.....

Senin, 04 Oktober 2010

Aku bagai lilin yang rapuh


Ada kalanya mentari yang hangat begitu cepat berlalu
berganti petang yang kian menghilang
lalu malam menjadi kelam

Aku terpaku mematung
menatap mantap pada keremangan yang nyata
yang tak lain adalah refleksi diriku yang beku

Angin berhembus mengabarkan dinginnya malam yang tanpa bintang
aku goyah seperti ikut tersapu
bagai akan lenyap, aku mulai meleleh

Ada senyap dalam batinku
merasa kian terbelenggu dalam kebosanan
aku kini sendirian
gelap,
dan aku mulai padam.....

Pernikahan a la Adat Belitung (part 2)

Pengantin Beranjuk

Badan rasanya masih pegel, tulang-tulang serasa remuk... Setelah seharian kemarin begawai, bantuin sodaraku yang hajatan. Seperti diceritakan dalam postingan sebelumnya, sepupuku yang namanya Eko nikah 2 minggu lalu. Dan kemarin itu digelar acara lanjutan yang masih merupakan rangkaian acara adat nikah a la Belitung, yaitu pengantin beranjuk. Sibuk banget, mana hujan... Tapi setelah selesai acara, puas banget rasanya. Plus lega, hufft...

Nggak kalah ribetnya sama rangkaian acara pernikahan di rumah pengantin cewek, prosesi pengantin beranjuk yang digelar di rumah pengantin cowok juga ternyata memiliki alur yang cukup panjang dan unik. Kepanitiaan juga cukup njelimet dan mbingungi, hahaha... Cuman bedanya, pengantin beranjuk ini hanya digelar dalam sehari.

Selama kurang lebih seminggu sebelum hari H, semua anggota keluarga sudah dibuat sibuk dengan segala urusan tetek bengek acara. Yang pertama dilakukan adalah pembagian tugas dan kepanitiaan. Untuk menentukan siapa saja yang akan ditunjuk sebagai panitia acara, diadakan rapat panitia yang biasanya dihadiri oleh sesepuh dalam keluarga (kebanyakan udah bapak-bapak), juga orang-orang yang diajukan sebagai calon panitia tersebut. Sedangkan yang ibu-ibu dapat bagian di dapur buat nyiapin hidangan untuk peserta rapat. Susunan panitia yang ditetapkan untuk acara pengantin beranjuk (maupun acara pernikahan) diantaranya adalah :
  1. Pengulu gawai (pemimpin hajatan)
  2. Tukang ngundang
  3. Tukang nerimak tamu (penerima tamu)
  4. Tukang tanak nasik (masak nasi)
  5. Tukang masak aik (masak air)
  6. Tukang ngambik aik (mengambil air)
  7. Tukang perikse sajian (memeriksa sajian)
  8. Tukang ngelepaskan sajian
  9. Tukang nyuci piring
  10. Tukang berebut lawang (berebut pintu)
  11. Tukang jage jajak (menjaga kue)
  12. Tukang ngantar makanan penganten
  13. Tukang bearak
  14. Tukang ngambelek penganten (menjemput pengantin)
  15. Panggong (tukang masak)
  16. Mak inang (juru rias pengantin)
Setelah seluruh panitia terbentuk, maka seluruh panitia dan kerabat mulai begawai pada keesokan harinya. Yang pertama dilakukan adalah nyelamatek gawai oleh dukun kampong. Setelah itu, para cowok dari yang tua sampai yang muda bergotong royong untuk menata panggung dan tenda untuk hajatan. Besoknya, kira-kira H-2, dimulai acara ngebumbu/ngeranca bumbu (meracik bumbu sebagai persiapan untuk memasak esok harinya). Lalu H-1'nya mulai bemasak.

Pada hari H, keluarga pengantin cewek, beserta kedua mempelai, datang dengan iring-iringan rebana. Tapi mereka tidak harus beradu pantun dulu seperti pada acara di rumah pengantin cewek. Seluruh rombongan masuk kedalam rumah pengantin cowok, dan kedua mempelai menempati pelaminan. Berhubung aku cuman jadi panitia 'bagian belakang' alias bantu-bantu masak, jadinya aku kurang tau ngapain aja mereka di dalam rumah. Keliatannya sih, mereka cuma bekelakar untuk mengakrabkan kedua keluarga. Lalu (kalo gak salah), ada acara dimana kedua mempelai berkeliling sambil bersalaman dengan seluruh anggota rombongan pengantin cewek. Mungkin sebagai salam perpisahan atau apa... kar'na mulai hari itu, kedua mempelai akan tinggal di rumah keluarga cowok. Itulah kenapa prosesi ini dinamakan pengantin beranjuk, karena pada hari inilah pengantin diantarkan ke rumah pengantin cowok untuk beranjuk (menginap).

Nggak terasa, hari mulai sore... Tamu undangan sudah mulai sepi. Aku yang tadinya cuma kebagian tugas bantu-bantu masak, beralih profesi jadi fotografer dadakan. Jepret sana, jepret sini... Sedih juga, karena fotografer adalah satu-satunya orang yang nggak kebagian difoto. Wekkk... Tapi sekali lagi, aku cukup puas. Ternyata begini yah prosesi pernikahan a la Belitung. Ribet plus unik.

Luph ya, Belitong...